Senin, Mei 18, 2026
Google search engine
BerandaADVERTORIALSenyum Anak Negeri, Energi Perubahan dari Dapur Makan Bergizi Gratis

Senyum Anak Negeri, Energi Perubahan dari Dapur Makan Bergizi Gratis

Oleh: HARLUSEN INDAHMAN BAHYU

Di tengah hiruk-pikuk dinamika politik dan silang pendapat publik, ada satu program yang perlahan menembus sekat perdebatan: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) — sebuah gagasan besar dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang kini mulai terasa manfaatnya hingga ke pelosok negeri.

Bagi sebagian orang, program ini mungkin hanya dianggap wacana populis atau proyek yang sarat kepentingan. Namun di balik riuhnya kritik dan cibiran, ribuan anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita telah menikmati manfaat nyata dari program yang membawa misi kemanusiaan ini. Mereka kini bisa tersenyum ceria saat menikmati makanan bergizi yang tak hanya mengenyangkan, tapi juga menyehatkan.

Dan di balik senyum itu, ada sosok-sosok yang bekerja dalam diam — salah satunya Kasmi Harasti, perempuan tangguh yang menjadi PIC Yayasan Sriwijaya Cahaya Nusantara, pelaksana lapangan program MBG di wilayahnya.

Antara Cacian dan Capaian

Kasmi mengakui, perjalanan melaksanakan program MBG tidak selalu mulus. Ada banyak suara sumbang, bahkan fitnah, yang mencoba memadamkan semangat mereka.

“Banyak yang iri, dengki, dan berpenyakit hati. Tapi ketika melihat tawa anak-anak penerima manfaat MBG, semua lelah itu langsung hilang,” ujarnya dengan mata berbinar.

Menurutnya, pekerjaan sosial seperti ini memang tak bisa memuaskan semua pihak. Selalu ada yang menilai dari luar tanpa memahami mekanisme yang telah diatur dengan ketat oleh pemerintah pusat dan tim ahli gizi.

“Program ini bukan sekadar bagi-bagi makanan. Kami bekerja berdasarkan standar gizi nasional. Setiap menu diuji dan dicicipi oleh tim ahli gizi di dapur SPPG sebelum disalurkan kepada penerima manfaat,” jelasnya.

Dapur SPPG: Laboratorium Kemanusiaan

Di balik setiap nasi kotak yang diterima anak-anak sekolah, tersimpan kerja keras dan ketelitian luar biasa. Di dapur SPPG, para juru masak dan ahli gizi bahu membahu menyusun menu bergizi seimbang — dari kandungan protein, karbohidrat, hingga vitamin yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak.

“Tidak semua makanan bisa disajikan. Ada proses seleksi dan pengawasan yang ketat. Setiap menu harus sesuai dengan standar yang ditetapkan ahli gizi, baik untuk siswa sekolah maupun kelompok B3 (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita),” terang Kasmi.

Di dapur itu, aroma masakan bukan sekadar bau sedap, tapi juga simbol dedikasi. Dedikasi untuk anak bangsa agar tumbuh cerdas, kuat, dan berdaya saing.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Banyak pihak mempertanyakan, mengapa program MBG tidak langsung dikelola oleh sekolah?

Kasmi tersenyum menjawab, “Kalau dikelola sekolah, apakah mereka punya tim ahli gizi yang memantau kadar nutrisi setiap hari? Kami di lapangan bukan hanya memberi makan, tapi juga memastikan anak-anak menerima asupan bergizi sesuai kebutuhan tubuh mereka.”

Ia menambahkan, pengawasan dari tim ahli gizi sangat penting agar tidak ada kesalahan dalam pemberian porsi atau kandungan makanan. “Ini bukan soal mudah. Kami bertanggung jawab penuh atas kesehatan dan tumbuh kembang generasi penerus bangsa,” ujarnya tegas.

Semangat yang Tak Pernah Padam

Walau sempat digoyang isu dan cemoohan, semangat Kasmi dan timnya justru semakin kuat. Setiap kali mereka melihat senyum anak-anak yang lahap menyantap makanan bergizi, keyakinan mereka kembali menyala.

“Kadang rasa lelah datang, tapi ketika melihat mereka makan dengan gembira, hati ini hangat. Itulah bahan bakar semangat kami,” ucapnya.

Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya urusan dapur, tapi juga tentang keadilan sosial dan masa depan bangsa. Karena tidak ada negara yang maju tanpa generasi yang sehat dan cerdas.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments