Kaur Selatanupdate.com – Di tengah pro dan kontra yang muncul terkait pendistribusian dan penyajian Makanan Bergizi Gratis (MBG), Kasmi Harasti, PIC Dapur MBG Yayasan Sriwijaya Cahaya Nusantara Desa Suka Bandung, Kecamatan Kaur Selatan, Kabupaten Kaur, menegaskan bahwa program MBG hadir bukan untuk menggantikan seluruh kebutuhan gizi, melainkan sebagai penyeimbang pemenuhan gizi masyarakat, khususnya anak sekolah dan kelompok rentan B3 (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita).

Menurut Kasmi, kritik dan perbedaan pandangan di masyarakat merupakan hal yang wajar, terutama bagi mereka yang belum memahami secara utuh konsep dan mekanisme kerja MBG. Ia menekankan bahwa MBG disusun berdasarkan standar kebutuhan gizi yang terukur, bukan sekadar pembagian makanan tanpa dasar perhitungan.

“Memang tidak mungkin MBG memenuhi seluruh kebutuhan gizi harian. Namun yang perlu dipahami, MBG ini adalah program penyeimbang gizi, baik untuk anak sekolah maupun kelompok B3. Di dapur kami sudah ada tim yang secara khusus mengukur kandungan gizi, dan pengawasannya dilakukan secara terstruktur serta ketat,” jelas Kasmi.

Lebih jauh, Kasmi menegaskan bahwa dapur MBG Yayasan Sriwijaya Cahaya Nusantara bekerja dengan prinsip kehati-hatian dan akuntabilitas tinggi. Setiap menu yang disajikan telah melalui proses pengecekan sebelum didistribusikan, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, hingga kelayakan konsumsi.

“Kami tidak asal memberikan makanan. Semua ada tahap pengecekan terlebih dahulu. Ini komitmen kami untuk memastikan makanan yang sampai ke penerima benar-benar aman, layak, dan bergizi,” tegasnya.

Sebagai bentuk transparansi, pihak yayasan juga membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin mengetahui secara langsung bagaimana dapur MBG beroperasi. Masyarakat, tokoh, maupun pihak terkait dipersilakan datang untuk melihat proses pengolahan hingga pendistribusian makanan.

“Kami selalu terbuka. Jika ingin lebih paham kebutuhan gizi dan bagaimana dapur MBG ini berjalan, silakan datang. Kami ingin masyarakat melihat langsung bahwa program ini dijalankan secara serius dan bertanggung jawab,” tambah Kasmi.

Ia juga mengakui bahwa pelaksanaan MBG masih terus berproses dan membutuhkan evaluasi berkelanjutan. Namun demikian, pihaknya berkomitmen untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas layanan, baik dari sisi menu, distribusi, maupun pengawasan.

Dengan pendekatan terbuka, terukur, dan berbasis kebutuhan gizi, dapur MBG Yayasan Sriwijaya Cahaya Nusantara diharapkan tidak hanya menjadi penyedia makanan, tetapi juga menjadi pusat edukasi gizi masyarakat, sekaligus bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan generasi masa depan di Kabupaten Kaur.(HZ)