Oleh: Harlusen Indahman Bahyu
Kaur Selatanupdate.com – Di Desa Sinar Mulya, Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur, sebuah pemandangan memilukan kembali mengusik nurani. Seorang warga sakit terpaksa ditandu menggunakan bambu, melewati jalan berlumpur dan berbatu, hanya untuk bisa mencapai RSUD Kaur.
Dalam senyap pedesaan, terdengar derap langkah para pemikul ambulans tandu bambu langkah-langkah berat yang mengiringi perjuangan membawa pasien menuju pertolongan. Suara ranting patah, dengusan nafas para pemikul, dan gesekan bambu di bahu menjadi saksi bisu betapa sulitnya masyarakat mengakses layanan kesehatan yang seharusnya menjadi hak dasar.
Ironisnya, kejadian ini bukan yang pertama. Dalam waktu dekat ini, setidaknya sudah tiga kali masyarakat di wilayah Maje mengalami hal yang sama. Seolah tandu bambu telah menjadi simbol keputusasaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Potret Ketimpangan yang Sulit Dibantah
Di saat sebagian daerah menikmati jalan mulus dan pembangunan fisik yang mencolok, warga Sinar Mulya justru masih berkutat dengan jalan rusak yang tak mampu dilalui kendaraan. Jalan bukan lagi sekadar infrastruktur, tetapi urat nadi kehidupan. Dan ketika urat nadi itu rusak, maka seluruh aktivitas termasuk urusan nyawa terhambat.
Ketimpangan pembangunan di Provinsi Bengkulu tampak begitu nyata, terutama ketika desa-desa seperti Sinar Mulya harus menanti dengan harapan yang kian menipis.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Ketika pasien harus dibawa berjam-jam dengan tandu bambu, muncul pertanyaan yang terus bergema di antara masyarakat:
Pemerintah kabupaten kah yang lalai?
Pemerintah provinsi kah yang kurang memprioritaskan wilayah terpencil?
Atau pemerintah pusat yang masih menjadikan akses desa sebagai urusan pinggiran?
Alasan klasik seperti efisiensi anggaran atau keterbatasan biaya bukanlah jawaban yang pantas bagi masyarakat yang mempertaruhkan nyawa di jalan.
Sinar Mulya: Desa yang Tidak Minta Mewah
Seorang warga yang ikut memikul tandu bambu berkata lirih,
“Kami tidak minta jalan mewah, cukup jalan yang bisa dilewati mobil kalau ada darurat.”
Kesederhanaan permintaan itu justru menyiratkan betapa panjangnya penantian masyarakat selama ini. Mereka tidak menuntut fasilitas mahal. Yang mereka inginkan hanya akses dasar yang memungkinkan ambulans, bukan tandu bambu, melintas di jalan desa.
Tandu Bambu: Simbol Pahit dari Kegagalan Kolektif
Derap langkah pemikul tandu bambu bukan sekadar bunyi ritmis perjalanan. Itu adalah suara kritik paling jujur terhadap lemahnya keberpihakan pembangunan. Setiap langkah kaki mereka adalah pengingat bahwa negara masih absen di wilayah yang paling membutuhkan kehadirannya.
Selama jalan seperti di Sinar Mulya tidak menjadi prioritas, maka derap langkah ambulans tandu bambu akan terus terdengar, membawa cerita pilu dari generasi ke generasi.
Saatnya Pemerintah Menoleh ke Pelosok
Pemerintah daerah, provinsi, dan pusat harus berhenti saling melempar tanggung jawab. Infrastruktur dasar harus menjadi fokus utama, bukan proyek seremonial yang hanya mempercantik kota.
Langkah nyata yang harus dilakukan:
Pembangunan jalan prioritas di wilayah berakses kritis seperti Maje.
Pemetaan kebutuhan mendesak berbasis kondisi lapangan, bukan tumpukan laporan rapat.
Pengawasan dan transparansi paket pekerjaan infrastruktur.
Koordinasi lintas level agar wilayah terpencil tidak terus terabaikan.
Jangan Biarkan Derap Langkah Itu Terus Menggema
Nama Sinar Mulya seharusnya membawa terang. Namun selama jalan menuju desa ini rusak berat dan tidak tersentuh pembangunan, maka yang terdengar bukan suara kemajuan, melainkan derap langkah pemikul ambulans tandu bambu suara yang seharusnya menyadarkan pemerintah bahwa pemerataan pembangunan bukan pilihan, melainkan kewajiban.
Masyarakat tidak menuntut kemewahan,mereka hanya meminta negara hadir di jalan-jalan yang selama ini menjadi saksi penderitaan mereka.(HZ)



